AMBUBERAS

simple life, great happiness

memang benar. perang paling berat adalah melawan diri sendiri. memang benar.

Orang bisa senang karena tidak bertemu hantu dalam kesunyian. Namun bisa saja berubah menjadi ketakutan karena tidak bertemu manusia. Rindu itu mengerikan

BOOSAN

Aku mau mengakui kesalahanku di sini. Tentang skripsi yang tak kunjung rampung. Bulan depan - Agustus 2014 -  genap 5 tahun aku merelakan pikiranku diolah dan dibentuk di kampus Bulaksumur itu. Di antara 5 tahun itu sekitar 1,5-nya aku habiskan untuk menyelesaikan skripsi. Lebih tepatnya belum menyelesaikan sih, tapi mengerjakan dengan tempo bekicot tua, ultra lambat.

Jumlah total halaman skripsiku sekitar 250 halaman.

Kita ambil pengandaian saja, jika dalam sehari aku bisa menulis 1 muka (1 halaman), maka seharusnya skripsi ini bisa selesai dalam waktu 274 hari. Dengan kata lain itu tidak sampai memakan waktu 1 tahun.

Dalam satu perspektif, aku berusaha tidak mengutuk kelamaan ini karena aku sudah bertekad  kuat untuk santai mengerjakannya. Hanya saja, ada perspektif lain mengatakan berbeda. Perspektif itu bukan dari orang lain, tapi dari diriku sendiri. Aku tidak terlalu ambil pusing tanggapan orang, walaupun kuakui aku sempat sedikit tertampar dengan beberapa pernyataan teman dan saudara. Tapi aku anggap itu proses kebebasan berpendapat di negara agraris yang demokratis, komunal lagi. Aku anggap saja angin lalu, sejenis masuk angin, mudah sembuh.

Perspektif lain itu cukup mengusik, dan belakangan bikin pegal-pegal. Perspektif itu adalah kebosanan yang pedasnya level 10. Hampir pecah. Aku akui aku salah karena tidak mempertimbangkan bahwa akupun bisa bosan jika harus menghadapi pekerjaan yang itu-itu saja dalam jangka waktu lama.  Aku benar-benar tidak siap mengantisipasi. Sikap siap-reaktif jika ada bencana (lebih tepatnya dibumbui panik) -karena beberapa kali aku sudah mengalami sendiri kejadian alam di Joga- lupa aku manifestasi di skripsi ini. Atau lebih kasarnya aku terlalu bodoh memtuskan berjalan sok santai, yang akhirnya membuatku  terjerembab di lumpur jenuh yang susah sekali dibilas.

Namun benar kata saudaraku di Jakarta waktu wawancara kerja gagal kemarin. Aku sudah berumur karena hampir menyentuh 24. (Sebenarnya aku sedikit tercubit karena usia itu masih muda untuk ukuran pemain bola, walaupun aku main futsal saja payah. Hahaha). Lalu aku sadar, tugas orang berumur adalah menyelesaikan kewajibannya. Skripsi ini (mau tidak mau) adalah lembar paripurna yang harus aku serahkan kepada pihak berwenang yang sudah mendidikku sejauh ini. Waktuku tinggal sebentar jika tidak mau melebihi batas 5 tahun. Tanggung jawab harus ditunaikan, nak.

Bertemu adalah Obat

- a very late post -

Beberapa hari yang lalu aku pulang ke kampung halaman. Sebuah ritual rutin yang tidak pasti intervalnya. Setelah sekian lama tidak berkunjung ke rumah teman, akhirnya aku membuat janji dengan Kunto, teman tetangga kampung yang jago Tae Kwon Do. Awalnya aku hanya berniat berbincang-bincang saja di rumahnya, tapi dia malah mengajakku keluar.

Dia mengajakku ke Mangiran, suatu daerah di seberang sungai yang terkenal dengan ke-ngeyel-an Ki Ageng-nya untuk tunduk pada kekuasaan raja waktu itu. Kami tidak mau ke situs Ki Ageng tersebut untuk napak tilas, tapi ke warung makan baru punya sesama teman SMP ku. Riwanto, yang ceking karena lahir di keluarga sangat sederhana melanjutkan perjuangan menjadi koki ayam bakar. Aku datang dan bersalaman dengannya, dan tak lupa dengan ibunya yang memang sudah aku kenal dari dulu. Dulu, Riwanto sering beristirahat di rumahku ketika jam pergantian sekolah ke kegiatan ekstrakurikuler karena relatif dekat dengan sekolah.

Didampingi ‘wedang uwuh’, minuman khas Imogiri, kami ngobrol banyak sekali sampai hampir 2 jam tak terasa kami sikat. Riwanto bercerita tentang ayahnya yang sakit sampai susah ke mana-mana. Katanya empedunya terserang jadi perutnya sering kesakitan tak karuan. Jujur aku sedih, aku sudah beberapa kali ke rumahnya dan aku tahu persis kondisi keluarganya. Aku malu karena belum bekerja, jadi cuma bisa diam tanpa bisa berbuat apa-apa.

Kunto juga mulai bercerita tentang perkembangan teman-teman SMP. Dia yang paling tahu kabar anak-anak. Maklum dia sudah lulus dan sekarang kembali ke rumah sambil menggeluti profesi sebagai web developer. Menganggur? Menurutku sangat tidak, tapi masyarakat kami yang (tampaknya) masih sangat konservatif beranggapan lain. Lagi-lagi aku sedih. Di saat belum mau bekerja di perusahaan, dia harus bergerilya melamar ‘kerja’ untuk menyelamatkan muka kedua orang tuanya.

Hmmm. Apapun cerita malam itu, aku baru sadar kalau sebenarnya aku kangen mereka. Teman-teman semasa berjuang di sekolah desa yang harus menyewa lahan pasar untuk membuat lapangan volley sendiri. Barangkali kita tidak sadar jika kita merindukan seseorang sampai kita benar-benar bertemu dengannya.